Pencarian

Shoutbox


ShoutMix chat widget

Recent Posts

Recent Comments

Demi Cita-cita mulia itu....

Posted on Sunday, July 12, 2009 by jojo

Dari dulu saya tak pernah punya cita-cita serius. Kalau mengisi kolom cita-cita pada buku kenangan teman-teman sekolah yang biasanya beredar saat tahun ajaran hampir berakhir ketika SD dan SMP dulu (well, sebetulnya it was Madrasah Ibtidaiyah dan Madrasah Tsanawiyah), saya selalu menulis "mau jadi doktoranda....". Di masa itu, saya berpikir inilah satu-2nya gelar akademis, yang saya tahu dari seseorang yang menjadi sarjana pertama di kampung kami.... Maklumlah, menjadi anak kampung di jaman belum berinternet kala itu memang sangat susah tertular informasi dari dunia luar. Hal-hal sederhana seperti zodiak saja misalnya, bisa salah persepsi. Waktu itu saya pikir zodiak bukan sesuatu yang berhubungan dengan tanggal lahir. Jadi, dalam buku kenang-2an sekolah dari teman-2 saya, saya kadang-2 menulis Cancer, Gemini, Leo, padahal zodiak saya adalah Aries.

Kembali ke soal cita-cita. Cita-cita tak serius lain ketika waktu SD adalah menjadi penyayi, terinspirasi setelah melihat Nia Daniati menyanyi "Gelas-Gelas Kaca" di Acara Aneka Ria Safari-nya TVRI yang dipandu oleh Sri Maryati. Dalam TV hitam putih bertenaga accu yang saya tonton di rumah tetangga kampung, hingga kini saya masih mengingat bagaimana gaya Sri Maryati "mempersembahkan" si wajah sendu Nia Daniati. "Inilah dia, Si Cantik Nia Daniatiiiii......!!

Kalau saya tidak sedang sibuk membantu ibu di dapur, atau tidak sedang bermain sambil mencari tambahan uang jajan ke sawah, sungai dan hutan, saya sering berkaca di depan lemari reot kamar saya dan berbisik mendendangkan lagi tersebut. Walaupun waktu itu saya meresa pede tak kalah cantik dengan Nia Daniati (ehm!!), tapi saya sudah berangan-angan bila saja jadi penyanyi sungguhan dan tampil di Acara Aneka Ria Safari seperti Nia Daniati kelak, saya akan meminta Sri Maryati untuk tidak memanggil saya dengan si cantik, tetapi dengan sebutan yang lain. Sayangnya saya lupa apa sebutan lain dalam angan-angan saya waktu itu.

Pada akhirnya tidak satupun cita-cita saya ini yang tercapai.... Jadi doktoranda tentu tidak kesampean karena memang gelar sarjana sekarang tidak lagi memakai doktoranda. Sementara walaupun sempat terlibat dalam penyutradaraan drama kecil di sekolah, dan ikut sanggar puisi sampai berlatih di komplek kuburan, minat seni saya ini terkubur dengan sukses.....

Selain tak pernah punya cita-cita serius, saya juga bukan orang yang terbiasa membuat rencana jangka panjang. Soal pekerjaan saja misalnya, saya tidak pernah mentargetkan mau mencapai karir, atau bekerja dalam bidang tertentu. Bagi saya yang penting kerja, menghasilkan uang, dan saya bisa punya kebebasan menggunakan uang tersebut untuk apapun yang saya anggap baik, termasuk tidak memberikan beban finansial pada suami. Dalam pekerjaan saya yang dulu, saya bahkan pernah menolak tawaran untuk mendapatkan promosi kenaikan pangkat hanya karena saya tidak ingin posisi tersebut membelenggu hidup dan kebebasan individual saya.

Walaupun tidak pernah punya rencana, alhamdulillah Allah amat memberikan saya kemudahan dalam hal pekerjaan ini. Sebelum saya menetap lumayan lama di posisi yang sekarang, sebelumnya saya keluar masuk berbagai institusi, dari mulai institusi pendidikan, kedutaan, LSM lingkungan, media cetak, media electronic, pabrik sepatu, pabrik electronic, sampai bekerja freelance dari rumah. Rekor terlama saya bertahan bekerja di satu tempat adalah empat tahun, dan rekor terpendek adalah 18 hari. Dan, bila saya ingat-2, kenapa saya bisa dengan mudah lolos dalam interview untuk pekerjaan-2 tersebut, padahal seringkali dengan persaingan yang sangat ketat, jawabannya ternyata sederhana. Dari semua job interview yang saya ikuti, tidak satupun pernah ada pertanyaan "what are you going to do in the next five years?", yang pasti tidak bisa saya jawab. Bagaimana memikirkan 5 tahun, baju untuk ke kantor besok pun biasanya baru saya pikirkan setelah saya selesai mandi pagi!!

Walaupun dalam pekerjaan yang sekarang saya sempat mengundurkan diri pada bulan ketiga karena terdorong desakan mantan bos yang menginginkan saya untuk bergabung dengannya di sebuah TV asing berbayar, akhirnya saya memilih untuk menetap, dan membatalkan kontrak --yang sudah saya tandatangani-- dengan TV tersebut. Alhamdulillah, hingga kini saya sudah berada di tempat yang sekarang selama lebih dari 3 tahun. Bukannya tak ada keinginan dan godaan untuk pindah lagi, tetapi keinginan membantu beban suami membayar aneka cicilan dan biaya kehidupan sehari-hari serta lebih bertanggung jawab secara sosial terhadap lingkungan sekitar kini membuat saya harus berfikir ulang sebelum memutuskan berhenti dan berpindah kerja dengan sangat mudah seperti dulu.

Dan, ternyata setelah lama malang melintang di dunia kerja yang mungkin merupakan cita-cita bagi sebaian orang, justru untuk pertama kalinya punya cita-cita serius!!. Dan cita-cita tersebut adalah sesuatu yang sangat sederhana, yang sudah menjadi keseharian banyak orang, tapi menjadi kemewahan buat saya, yaitu, menjadi full-time mother!!

Saya ingin ada satu masa dalam hidup saya dimana saya mendedikasikan seluruh waktu saya untuk keluarga, bukan untuk yang lain, termasuk untuk bekerja. Saya ingin jadi orang yang terakhir kali dilihat anak-2 sebelum mereka berangkat tidur, dan pertama kali mereka temui ketika bangun. Saya sangat terobsesi untuk menggunakan seluruh energi saya --bukan separo energi seperti sekarang-- untuk mengurus rumah dan mendidik mereka.

Saya sudah membayangkan nikmatnya melihat mereka duduk manis di meja makan, dan dengan muka tak sabar melongok apa akan disajikan oleh mamanya. Atau, asyiknya melihat mereka berlari-lari menyongsong saya begitu bubaran kelas dan berceloteh tentang suasana kelas mereka dalam perjalanan kami pulang ke rumah. Atau, menemani mereka melakukan kesukaannya setiap hari; bermain bola, bersepeda, menggambar, membuat ramuan ajaib, membuat aneka jenis jus, nonton kartun, berenang, sampai kejar-kejaran dengan kucing dan burung-burung di belakang rumah.

Saya terobsesi punya keleluasaan sepenuhnya untuk mengatur rumah, dan mengenal dengan sempurna detail-detail yang ada di rumah saya; mengetahui dengan tepat dimana letak gunting kuku, steples dan isinya, ingat dengan benar jumlah stock terigu, telur, bumbu-bumbu dan beras dan kapan harus menambahnya, mengantisipasi kapan sabun cuci piring dan detergen akan habis dan menyiapkan gantinya, faham kapan tukang telur bebek dan ayam kampung lewat di depan rumah sehingga saya tidak terlewat untuk memesan, sampai mencatat berapa kali tukang koran dan majalah absen mengantarkan korannya sehingga saya bisa menghitung dengan pasti berapa harga langganan yang harus di bayar. Semua hal yang bagi sebagian orang mungkin kecil dan sederhana, tetapi tidak bagi saya.

Dan, semuanya itu mustahil sepenuhnya bisa saya lakukan ketika saya bekerja penuh waktu seperti sekarang. Apalagi, pekerjaan saya saat ini seringkali mengharuskan saya untuk pergi meninggalkan anak-anak dan suami sampai hitungan minggu.

Demi cita-cita ini, saya tidak memperdulikan godaan suami yang seringkali bilang saya bukan tipe perempuan yang cocok hanya tinggal di rumah saja, dan pasti akan bosan di rumah serta ingin kembali bekerja hanya dalam hitungan bulan. Saya tetap yakin dengan cita-cita ini; I know what I want, eventhough that would not be the same with what you think....

Demi cita-cita ini pula, untuk pertama kalinya saya merencakanan sesuatu dalam jangka yang lumayan panjang. Sejak 6 bulan lalu, saya sudah menjadwalkan ingin mengambil cuti setahun mulai akhir tahun depan!! Setahun, waktu yang memungkinkan saya untuk melaksanakan cita-cita di atas. Setahun, sebagai permulaan, tapi tidak tertutup kemungkinan untuk cuti selamanya bila saya menemukan cara yang pas tetap mensupport suami secara ekonomi tanpa harus meninggalkan rumah.

Semua sudah ada dalam kepala saya; termasuk bagaimana caranya biar bisa cuti dengan damai dan bahagia, tanpa harus merasa bersalah kepada suami karena harus meminta uang, juga tanpa mengganggu program tanggung jawab sosial saya. Hal lain yang juga sudah ada dalam pikiran saya adalah pesangon si Teteh, asisten domestik yang sudah ikut kami selama hampir 10 tahun. Cuti saya ini nanti akan menjadi cuti panjangnya dia setelah 11 tahun bekerja di rumah kami.

Kemungkinan untuk punya pekerjaan di rumah pun sudah saya pikirkan masak-2. Alhamdulillah, sejauh ini sudah terdapat beberapa opsi, dari mulai jadi editor di salah satu penerbit sampai tawaran menulis buku dari seseorang di negeri sebrang yang pernah membaca tulisan saya di salah satu media berbahasa Inggris.

Tulisan ini saya buat untuk memperteguh cita-cita mulia tersebut, agar cita-cita ini tidak terkubur dengan sukses seperti cita-cita masa kecil saya. Mumpung bulan Ramadhan, tulisan ini juga sekaligus sebagai do'a mudah-2an saya masih diberi kesempatan oleh-Nya Allah untuk menjalaninya.

Banda Aceh, 25 Agustus 2009

Kepada Calon

Posted on Thursday, May 21, 2009 by jojo

Pada matahari yang tak terhempaskan. Pada angin nan tak terkibaskan. Pada api yang mengobarkan. Pada bumi yang tak terengkuh. Tak ada ragu tuk mengibarkan sejuta asa pesona. Pada kalbu-kalbu yang gelisah di penantian sunyi. Harini aku berjanji. Aku berikrar. Bila akhirnya kau kurengut ku pagut, maka tak ada rongga yang tak kututup…


Atas nama negeri mereka semua berjanji. Dan kami semua menanti. Sebab bagi kami mereka tidak hanya nafas, tapi juga denyut. Kepalan maupun lambayan mereka sungguh sebuah harap. Dari kejauhan tak kuasa kutolak bayang-bayang gelap, sirna. Meski dengan rundungan noda dan nista, masih kusisakan doa bagi mereka, agar kelak janji-janji yang telah terpancang begitu rupa, mendaulat mereka

Pemimpin mungkin juga calon pemimpin, mereka kini semuanya berjanji. Pada pintu-pintu mereka mengetuk, di gerbang layar membentang terang. Menyambut siapa saja yang datang, segera saja berjuta andai kudendangkan. Negeriku bertabur senyum.
Wuiih di jalan-jalan yang kususuri dengan lamun, kutemui kuntum-kuntum merekah. Elok. Kenapa negeriku bersolek begitu rupa, padahal luka masih menganga. Hendakkah kau lupakan kau tanggalkan duka? Tak kutemui isak pada setiap jengkal yang kuhampiri.

Jejak berjejak berganti tapak. Mereka datang silih berganti. Amboiii indahnya. Berderet senyum berhias rona, wajah mereka seperti senja. Ingin ku usap kuberi pulas, supaya janji semakin jelas. Tak ada pilu juga pun ngilu, mereka kini adalah biduk. Siap mengantar berpulau tuju.

Duhai mahligai yang hendak tergapai, berkatilah mereka dengan auramu. Jangan kau murkai mereka dengan angkuhmu. Niscaya kami renta tak kuasa tak berdaya. Tak sanggup kami membujuk, tak tahan kami merajuk, bila mahligai tak sanggup tergapai, pasti kami beroleh badai. Sirna jingga, sirna senja. Tak ingin kami kembali nista. Jauh, jauhkanlah ke tepi sehingga badai tak menghampiri.

Mungkin esokkan segera tiba. Calon segera berganti lakon. Ada yang merengkuh seraya bergemuruh, ada yang lunglai beraroma keruh. Tak henti ku bertengadah, tak jera ku panjat doa, agar kelak bila bersua, tak kau kuak luka dan murka. Calon biarlah tak berlakon, tapi jejak bertepi mati. Jejak elok takkan berkelok. Bila jejak kau simbah darah, kelak singgah berjulur galah. Anang A Yaqin

Fb

Posted on Tuesday, May 12, 2009 by jojo

Aha..ini dia, Fb (bukan flu babi tapi Facebook) kotak ajaib tempat memuntahkan segala ihwal, tempat curhat paling mau menerima segala keluhan, sebagian menjadikannya lahan berbisnis, dan mencari teman. Karena manusia butuh teman. Semua pemakainya, memperlakukan situs jaringan social ini sesuka-sukanya dengan nyaman dan riang gembira. Dalam Fb, kepada teman disini, tidak ada ragu atau malu untuk mengeluarkan semua isi benak bahkan sampai perut mulas. Misalnya, suatu hari saya membaca status di dinding teman: “Makan gado-gado terlalu pedas, sampai (maaf) berak di celana..brrrr”. Atau “Upilku kok bisa nempel di ketiak .., heran dehh”. Sampai begitunya yaa..

Ada lagi ajakan memboikot seorang calon Presiden yang ternyata laris manis diminati, sampai pendukungnya mencapai jumlah 100.000 dalam hitungan jam. “Say No to Mirnawati untuk Presiden” ramai-ramai didukung dan dikomentasi sampai puasss. (siapa yang mau dukung Mirnawati, dikenal juga kagak! Wew… Luar biasa!!

Saya tidak ingin menyebutnya demam atau wabah Fb, sebab tidak membuat badan menggigil atau lunglai. Kebanyakan penggunanya senyum-senyum sendiri, kadang nyengir, melotot, ada juga yang sambil ngiler karena ngiri lihat up date teman yang memang wrhhh…bikin ngiler. (maksudnya teman yang pamer foto lagi makan singkong bakar pake minyak kelapa, hmmm mak nyusss).

Menyaksikan betapa dahsyatnya Fb sebagai media komunikasi, rasanya pantas membayangkan suatu hari manusia tidak perlu keluar rumah, tidak perlu ke kantor dan tidak perlu bermacet-macet ria di jalanan berdebu. Semua bisa diselesaikan dengan kotak kecil bernama notebook. Mau makan pesan lewat internet, mau kerja bisa diselesaikan di rumah. Praktis semua keperluan bisa disajikan melalui kontak dengan internet. Hanya hal tertentu saja seperti (maaf) berak, tidur, bernafas nyisir rambut dan pakai baju. Untuk urusan hubungan intim saja, sebagian orang sudah bisa menyelesaikannya melalui dunia maya sebagian lagi tetap harus dengan nona Maya yang juga bisa dipesan di internet.

Mungkin suatu hari manusia itu tidak perlu lahiriah. Cukup identitas yang bisa dikomunikasikan, maka selesai segala urusan. Manusia sebagai satu kesatuan badaniah rohaniah tak lagi lazim, kelaziman cukup dituntaskan dengan identitas yang terdaftar dalam akun di situs internet, maka jadilah. Apalagi menyangkut segala otoritas kolektif yang selama ini berada dalam genggaman Negara, sudah pasti menyingkir, minggir!!

Apakah ini suatu ancaman bagi eksistensi lahiriah manusia? Sejatinya menjadi ancaman bagi kalangan yang senantiasa berurusan dengan aspek badaniah semata. Bagi mereka yang eksistensinya hadir berjejak tanpa harus melibatkan wujud fisik, rasanya tidak perlu cemas. Toh teknologi tercipta oleh dan untuk mendukung manusia melaksanakan hari-harinya. Pada saat teknologi hadir sampai batas memusnahkan kemanusiaan, pada saat itulah segala bentuk resistensi akan bermunculan. Teknologi yang tidak bisa diterima manusia, mengangkangi kebutuhan manusia, tidak akan eksis. Sejauh ini, mungkin juga nanti, manusia sendirilah yang menentukan untuk diteruskan atau dihentikan. Hidup Fb (sekali lagi bukan flu babi!!)